Berenang Bersama Ubur-ubur Unyu di Danau kakaban

Bagi yang suka jalan-jalan Danau Kakaban bukan menjadi suatu kata yang asing lagi, banyak sudah yang menjejakan kaki di sini, namun banyak juga yang masih bermimpi untuk mengunjunginya.

Ubur-ubur yang tidak menyengat, itulah daya tarik terhebat dari pulau ini. Walau sebenarnya masih banyak tempat lain di Indonesia yang mempunyai danau dengan penghuni ubur-ubur yang telah berevolusi ini, sebut saja tetangganya danau Haji Buang di Pulau Maratua,  di Pulau Togean, serta tak kurang dari 45 danau serupa di Misool Raja Ampat.

Ubur-ubur tanpa sengat

Hanyar berjarak sekitar setengah jam perjalanan dengan speed boat dari Pulau Maratua (Baca disini tulisan dan foto di Maratua), matahari telah bersinar dengan teriknya ketika saya merapat di pelabuhan Pulau Kakaban yang terbuat dari kayu.
Kita langsung disambut oleh undakan-undakan tangga kayu untuk menuju ke danau, untuk masuk ke sana kita diharuskan untuk membeli tiket masuk seharga RP. 10.000. Objek wisata ini dikelola oleh masyarakat setempat karena masih berada di bawah administrasi kampung Payung-payung yang terdapat di Pulau Maratua, ini sendiri tak berpenghuni.

Dermaga Pulau Kakaban
Jalan menuju Danau
Dermaga di dalam Danau

Pulau berbentuk seperti angka 9 ini sebenarnya adalah atol dengan laguna dibagian tengahnya yang seiring berjalannya waktu selama ribuan tahun terangkat ke permukaan hingga membentuk sebuah Pulau yang mempunyai luas sekitar 774.2 hektar. Begitu juga dengan penghuni laguna yang ikut terangkat bersama pulau ini mereka terperangkat di dalam sebuat danau yang kita sebut dengan Danau Kakaban.
Untuk menyesuaikan dengan air laut yang tak lagi asin, seiring dengan perkembangan waktu para penghuni Danau Kakaban juga menyesuaikan diri untuk hidup di lingkungannya yang berubah menjadi air payau. salah satunya adalah penghuni mayoritas yaitu ubur-ubur yang telah kehilangan daya sengatnya.

Jenis Mastigias Papua

Setidaknya ada empat jenis ubur-ubur yang di temukan dalam danau ini, yang paling banyak yang bisa kita temukan adalah jenis Mastigias papua, selain itu ada juga ubur-ubur berwarna bening (Aurelia aurita) yang hampir tak telihat, bahkan ketika difoto tampak samar oleh ubur-ubur yang lainnya, selain itu juga ada jenis Tripedalia cystophora yang imut serta jenis Cassiopeia ornata yang mempunyai keunikan dengan berenang secara terbalik.

Beningnya Air Danau
Berenang di Kakaban

Berenang dalam danau dengan dikerubungi oleh ribuan ubur-ubur membuat saya seperti berada di dunia lain, tak puas rasanya memperhatikan mereka yang berenang di sekitar saya. Bahkan untuk bergerak saja mustahil rasanya tidak menyentuh mereka, saking tidak teganya dengan mereka yang imut-imut bahkan untuk berenang saja saya harus berhati-hati agar tak melukai mereka.
Untungnya para pengelola tempat ini sadar akan pentingnya kelestarian tampat ini, mereka melarang wisatawan untuk berenang dengan menggunakan Fin (Kaki katak) ketika berenang agar tidak melukai tubuh rapuh mereka, serta melarang wisatawan untuk mengangkat ubur-ubur keluar dari air untuk telalu lama, bahkan  wisatawan yang tiba-tiba melompat sempat ditegur oleh mereka.

Alien dari Kakaban
Berasa di dunia lain (Taken by Abdul Aziz)

“Kami harus mengawasi wisatawan mas, kadang ada yang nakal juga, pernah ada yang membawa pulang ubur-ubur sempat saya marahi dan harus mengembalikan ubur-ubur tersebut ke danau” Ujar salah seorang petugas kepada saya.
Walau belum puas, namun saya tetap harus menyudahi sensasi berenang dalam mangkok cendol ini karena masih ada tujuan lain yang harus kami datangi sedangkan matahari sudah berada di puncak ubun-ubun.
Selain mempunyai Danau Ubur-ubur Pulau Kakaban juga mempuyai terumpu karang yang indah disekeliling pulaunya dan konon katanya merupakan surga bagi para penyelam dengan tebingnya yang curang dan langsung mengarah masuk ke kedalaman laut.

Terimbu karang di Depan Dermaga

 

Masih di Pulau Kakaban

Walaupun bukan seorang diver sayapun mencoba untuk menikmati keindahan lautnya dengan bersnorkeling di sekitar dermaga, namun ternyata tebumbu karangnya sudah banyak yang rusak. Walau katanya di sisi lain pulau ini spot snorkelingnya masih belum rusak.
Entah karena ulah wisatawan atau karena masyarakat sendiri yang dulunya masih belum sadar akan pentingnya terumbu karang. Jangan sampai pulau-pulau ini seperti di Gili Trawangan yang mana kendahan terumbu karang di pesisirnya hancur lebur karena banyaknya wisatawan yang datang kesana namun tidak dibarengi dengan kesadaran untuk menjaga dan tidak merusak terumbu karang.

Sebiji kelapa muda yang dijual seharga Rp.15.000 menyegarkan kerongkongan saya yang kehausan karena telalu lama berendam di air laut. Sambil menikmati segarnya air kelapa kita berbincang-bincang dengan para guide, pemilik speedboad dan beberapa wisatawan dari Malaysia dan Jakarta yang kebetulan juga sedang bekumpul disana.
Seorang bapak yang mereka bilang “Kuncen” Pulau Kakaban bercerita ketika dia dulu tempat ini belum seterkenal sekarang untuk menuju Danau mereka berjalan menembus hutan bakau karena masih tak ada dermaga dan jembatan seperti sekarang ini, bahkan tak jarang mereka bertemu dengan ular besar yang katanya masih banyak mendiami pulau ini.
Istirahat dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan ke pulau selanjutnya yaitu Pulau Sangalaki yang terkenal dengan kerajaan Pari Manta dan konsevasi Penyu.

Happy Responsible Travel!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>